I Depan I Pengalaman I Teknis Budidaya I FAQ I

Monday, January 09, 2006

Menanggulangi Penyakit Keriting Pada Cabai

Oleh: Sutomo (41), petani organik di Wingkosanggarahan Rt2/Rw2, Ngombol, Purworejo. dari Belajar dari Petani. Kumpulan Pengalaman Bertani Organik.Wangsit St dan Daniel Supriyana, diterbitkan oleh SPTN-HPS - Lesman - Mitra Tani.

Bahan: brotowali satu kilogram (atau daun-daunan yang pahit), kapur 10 sendok makan, kunyit satu kilogram.

Cara membuat: Ketiga bahan ditumbuk dan diambil airnya lalu dicampur dengan air 30-50 liter. Bahan ini siap digunakan untuk mengendalikan penyakit keriting pada cabai.

Mencegah semut pada persemaian

Bahan: kunir satu ons, laos satu ons

Cara pembuatan: kunir dan laos dihaluskan kemudian ditambah air secukupnya lalu disaring.

Cara pemakaian: larutan hasil saringan dimasukkan dalam penyemprot yang sudah berisi air (10 liter), semprotkan di lahan sehari sebelum digunakan untuk menyemai tanaman dan diulang tiga hari sesudah tanaman disemai.

Pengendalian ulat pada tanaman padi

Bahan: tanaman sere (seluruh bagian dan air).

Cara pembuatan: tanaman sere (250 gram) ditumbuk sampai halus. Tambahkan air secukupnya (empat gelas). Saringlah agar diperoleh cairan sere.

Cara pemakaian: larutan dicampur dengan 13 liter air. Semprotkan pada tanaman padi yang terserang ulat (hama putih, penggulung daun, penggerek batang). Untuk penggerek batang satu minggu setelah dijumpai adanya telur.

Mengendalikan ulat pada tanaman tomat, cabai, melon dan semangka

Bahan: puntung rokok satu ons dan air tujuh liter.

Cara pembuatan: masukkan puntung rokok dalam air. Biarkan selama 4–7 hari. Saringlah agar diperoleh air larutan yang bersih. Gunakan untuk mengendalikan hama yang menyerang tanaman. Penyemprotan pada pagi dan sore hari.

Pengendalian ulat grayak dan wereng

Bahan: 250 gram daun sirsat segar, air ½ liter.

Cara pembuatan: daun sirsat yang masih segar ditumbuk halus ditambah dengan air kemudian disaring.

Pemakaian: campurlah saringan air sirsat segar tersebut dengan air 14 liter dan semprotkan pada tanaman yang terserang hama.

Penyakit keriting pada cabai

Bahan: abu dapur dua kilogram, tembakau ¼ kg, belerang tiga ons.

Cara pembuatan: ketiga bahan direndam dalam air selama 3–5 hari. Saring air rendaman tersebut dan semprotkan pada tanaman yang terkena penyakit keriting.

Cara yang lain, bisa juga dengan menaburkan secara langsung abu dapur pada tanaman yang terserang penyakit keriting.

Mengendalikan hama wereng

Bahan: kecubung dua butir, jenu satu kilogram.

Cara pembuatan: kedua bahan direbus dengan air sampai mendidih. Saringlah air tersebut.

Cara penggunaan: setiap satu liter air rebusan dicampur dengan 16 liter air. Semprotkan pada tanaman yang terserang hama wereng.

Mengendalikan ulat grayak, ulat lain dan serangga

Bahan: segenggam daun gamal (satu kilogram), lima liter air, 250 mg tembakau rokok (sudah dirokok).

Cara membuat: segenggam pucuk daun gamal ditumbuk halus. Campurlah dengan air kemudian rebuslah. Dinginkan kemudian tambahkan tembakau dan aduklah hingga air berubah menjadi agak kehitaman/kemerahan.

Cara penggunaan: setiap 250 cc air larutan dicampur dengan air 10 liter. Gunakan untuk mengendalikan hama yang menyerang tanaman.

Hama walangsangit

Bahan: brotowali satu kilogram dan kecubung dua butir.

Cara membuatnya: kedua bahan tersebut direbus dengan air satu liter. Air rebusan kemudian disaring. Campurkan larutan tersebut dengan air 16 liter. Gunakan untuk mengendalikan hama walangsangit yang menyerang tanaman. Penyemprotan pada pagi dan sore hari.

Sumber: Pustaka Tani

Pengendalian Hama Benih

Sumber : Kusnaedi. Pengendalian Hama Tanpa Pestisida. Penebar Swadaya (2003)

Penyimpanan benih biji-bijian yang dilakuakn dengan tidak benar akan menurunkan kualitasnya sehingga daya tumbuhnya pun menjadi berkurang. Penurunan kualitas benih antara lain disebabkan oleh serangan jamur, bakteri dan hama serangga. Jenis hama yang menyerang benih diantaranya berbagai jenis kumbang penggerek dan ngengat.

Benih yang diproduksi oleh produsen benih biasanya sudah diberikan bahan kimia sebagai bahan pengawet. Bila akan memproduksi benih sendiri, pengawetan benih dapat dilakukan tanpa menggunakan bahan kimia. Prinsip pengawetan benih yang baik adalah disimpan dalam keadaan kering dan dengan kadar air rendah.

Secara sederhana, pengendalian benih ditempat penyimpanan agar tidak terserang hama serangga dapat dilakuakn dengan beberapa cara berikut :
- pengendalian hama benih dengan asap di para-para dapur.
- pengendalian hama benih dengan abu.
- pengendalian hama benih dengan garam
- pengendalian hama benih dengan empon-empon
- pengendalian hama benih dengan tepung tanaman


Pengendalian hama benih dengan asap di para-para dapur

Penyimpanan benih di atas para-para perapian di dapur sudah dikenal masyrakat petani, terutama yang tinggal di daerah pedesaan. Dengan cara ini, biasanya benih disimpan utuh dengan kulit buahnya. Beberapa jenis benih yang biasa disimpan dengan cara ini diantaranya jagung, padi, kacang-kacangan, labu, dan berbagai benih sayuran.

Secara alamiah, asap dapur tersebut akan mengeringkan benih yang disimpan dan sekaligus mencegah serangan hama perusak. Benih yang disimpan dengan cara ini biasanya dapat tahan sampai satu tahun.

Pengendalian hama benih dengan abu

Pengawetan benih yang dicampaur dengan abu dilakukan pula oleh petani untuk mencegah serangga berkembanga biak di dalamnya. Di dalam abu tersebut terdapat silica mempunyai permukaan kasar. Akibatnya, tubuh serangga akan tergoires-gores oleh permukaan silica tersebut. Lewat goresan-goresan tersebut akan terjadi penguapan cairan dari dalam tubuh serangga sehingga dapat berakibat kematian pada serangga tersebut. Selain dengan abu, dapat pula digunakan pasir sebagai bahan pengawernya.

Berikut ini cara mengendaliakan hama benih dengan abu

Benih-benih yang akan disimpan dipilih yang berkualitas baik, seperti berumur tua dan berasal dari tanaman yang sehat. Benih tersebut lalau dikeringakan dengan cara dijemur di bawah matahari.

Kaleng bekas biscuit atau blek dengan tutuppnya dibersihkan dan dijemur di bawah matahari.

Abu yang sudah dingin dicampur dengan benih. Perbandingan antara benih dan abu adalah 1:2.

Benih yang sudah dicampur abu dimasukkan ke dalam kaleng atau blek kemudian ditutup rapat dan disimpan di tempat yang kering.

Pengendalian hama benih dengan garam

Penggunaan garam sebagai bahan pengawet berfungsi menyerap uap air disekitar benih yang diawetkan. Cara pengawetan ini cukup murah dan mudah dilakukan. Cara mengendaliakan hama benih dengan garam sbb :

1. benih yang sudah diplih, dikeringkan di bawah sinar matahari.

2. diambil garam sebanyak 2-5 sendokkemudian dibungkus dengan kain atau kaos yang tipis.

3. benih dan bungkusan garam dimasukkan ke dalam kaleng dan ditutup rapat lalu disimpan ditempat yang kering.

Pengendalian hama benih dengan empon-empon

Empon-empon tergolong tanaman obat-obatan, terutama sebagai abhan pokok pembuatan jamu. Bahan-bahan tersebut mengandung zat kurkumin yang dapat menghambat pertumbuhan organisme, khususnya jamur dan bakteri. Di samping mempunyai daya bunuh terhadap bakteri dan jamur, bau empon-empon juga tidak disenangi oleh hama serangga. Karena sifat inilah maka tanaman tersebut dapat dipakai sebagai bahan pengawet benih.

Contoh empon-empon yang dapat digunakan untuk bahan pengawet benih adalah jahe, kunyit, temulawak dan bengle. Cara penggunaan empon-empon tersebut dapat dilakuakn dengan diparut atau dipotong-potong lalu dicampurkan dengan benih dan disimpan di tempat yang tertutup.

Berikut ini cara pengendalian hama benih dengan empon-empon :
1.Dipilih salah satu jenis empon-empon seperti : jahe, kunyit, temulawak dan bengle kemudian diparut.

2.Benih yang akan disimpan harus sudah kering dan dicampur dengan parutan empon-empon tersebut.

3.Benih yang sudah dicampur parutan empon-empon tersebut dijemur hingga kering di bawah sinar matahari.

4.benih yang sudah kering dimasukkan ke dalam kaleng lalu ditutup rapat.

Tepung tanaman

Bentuk kering dan tepung dari botanical dengan beraroma dapat juga dicampurkan ke dalam benih yang disimpan untuk memberikan perlindungan terhadap serangga seperti kumbang.


Tanaman

Nimba
Tumbuk biji kering, daun atau keduanya : dan campurkan 3-4 sendok teh (sekitar 15-20 gram) tepung untuk setiap kelogram benih. Gandakan jumlah tepungnya bila yang digunakan hanya daunnya.

Cabe
Cabe dikeringkan dan dihaluskan, sekitar 4-6 sendok teh (20-30 gram) dicampurkan dengan setiap kilogram benih.

Merica hitam
Campurkan 6 sendok teh (30 gram) biji merica kering atau daunnya dan kemudian dihaluskan untuk setiap kilogram benih yang akan disimpan. Jumlah tepung harus digandakan bila daunnya yang digunakan.

Jahe kuning
Akar atau umbi jahe dikeringkan dan ditumbuk. 4 sendok teh (20 gram) dicampurkan untuk setiap kilogram benih.

Mint
Daun mint dikeringkan dalam bentuk tepung sebanyak 1-4 sendok teh (5-20 gram) untuk setiap kilogram benih yang akan disimpan

Turnip
Biji turnip ditumbuk dan dicampur dengan benih sebanyak 1-2 sendok teh (5-10 gram) untuk setiap kilogram benih.

Tembakau, mango & Lagundi
Tepung daun kering dapat dicampurkan dengan benih. Jumlah yang akan dicampur dengan benih dapat dicoba sendiri.

Tuesday, January 03, 2006

Membuat Pupuk Kascing

Kascing dan manfaatnya

Kascing atau vermicompost adalah kotoran cacing tanah. Kascing mengandung unsur hara yang lengkap, baik unsur makro dan mikro yang berguna bagi pertumbuhan tanaman. Komposisi kimia kascing Eisenia foetida meliputi nitrogen (N)0,63%, fosfor (P) 0,35%, kalium (K) 0,20%, kalsium (Ca) 0,23%, magnesium (Mg) 0,26%, natrium (Na) 0,07%, tembaga (Cu) 17,58%, seng (Zn) 0,007%, manganium (Mn) 0,003%, besi (Fe) 0,79%, boron (B) 0,21%, molibdenum (Mo) 14,48%, KTK 35,80 meg/100mg, kapasitas menyimpan air 41,23%, dan asam humus 13,88%.

Unsur-unsur kimia tersebut siap diserap tanaman dan sangat berguna bagi pertumbuhan dan produksinya. Disamping itu kascing mengandung mikroba dan hormon perangsang pertumbuhan tanaman. Jumlah mikroba yang banyak dan aktivitasnya yang tinggi bisa mempercepat pelepasan unsur-unsur hara dari kotoran cacing menjadi bentuk yang tersedia bagi tanaman.

Cara membuat kascing

Pembuatan kascing akan berhasil jika kita mengetahui kebutuhan yang layak untuk hidup dan perkembangbiakan cacing tanah (CT). CT yang digunakan adalah Lumbricus rubellus, atau jika tidak didapatkan, bisa digunakan cacing tanah lokal yang ada di kebun, di pekarangan, dan tumbukan sampah.

Untuk pertumbuhan yang baik bagi CT, diperlukan pH untuk tempat tinggal (media) antara 6,5-7,5, suhu 22-28oC, dan kelembaban media 40-60%. Ketinggian atau kedalam media maksimum 25 cm dan berada di tempat teduh atau tidak terkena sinar matahari langsung.

Istilah yang digunakan

Sampah, yakni sisa bahan sayur (kecuali daun salam dan sereh), dedaunan (sampah kebun, kecuali daun cengkeh dan cemara), sisa buah-buahan (kecuali jeruk, kulir, buah dan daunnya), dan kertas mudah hancur yang belum diolah.

Media siap pakai, siap tanam cacing tanah yakni tempat berlangsungnya proses pengomposan tahap awal dari sampah penyiraman dan pembalikan. Penyiraman dan pembalikan yang odeal; dilakukan setiap hari atau tiga hari sekali. Proses ini akan berlangsung selama 1-2 minggu.

Pakan, yakni sampah yang telah diperlakukan seperti media, tetapi paling sedikit telah berumur 3 hari. Pakan ini diberikan setiap hari pada wadah yang telah berisi cacaing tanah, kecuali pada media yang telah berubah menjadi kascing.
Kascing atau bekas cacing adalah hasil akhir dari proses pengomposan dengan bantuan cacing tanah. Kascing berbentuk seperti tanah dengan tekstur halus, tidak berbau, dan berwarna kehitam-hitaman. Lama proses terjadinya kascing dari media kascing sekitar 1 bulan.

Kokon, yakni selubung telur yang biasanya berisi 2 cacing tanah muda sebagai hasil perkawinan 2 individu cacing tanah dewasa atau cacing tanah bersifat hemaprodit. Penentasan kokon berlangsung selama 15-21 hari dalam suasana hangat.


Tahap Persiapan

1. Sediakan 4 buah wadah plastik ukuran 45x35x15 cm dengan permukaan atas rata. Wadah bisa dari bahan lain yang lebih murah, misalnya bambu atau kayu.

2. Lubangi bagian dasar dan sampaing wadah tersebut sebesar kelingking dengan jarak antarlubang sekitar 3 cm. Lubang ini berfungsi sebagai saluran pembuangan air agar tidak terjadi genangan dalam media.

3. Rapikan bagian-bagian yang telah dilubangi dan cuci wadah hingga bersih dengan air biasa tanpa menggunakan sabun.

4. Buat tempat kascing 4 rak atau laci dengan bagian atas, bawah, kanan, kiri dan belakang tertutup kawat ram ukuran terkecil dan bagian depan diberi pintu.

5. Beri pengamanan di keempat kaki rak untuk mencegah hama atau musuh cacing tanah berupa wadah yang berisi minyak tanah.


Tahap Pelaksanaan
1. Potong-potong atau cacah sampai yang telah disediakan dengan ukuran 2-3 cm, kemudian masukkan ke dalam wadah paling atas dan siram dengan air secukupnya hingga media tetap basah dan lembab, tetapi jangan sampai sampah organiknya tergenang air.

2. Penyiraman disarankan setiap hari sampai menjadi setengaj matang (sekitar semumur seminggu)jika jumlah sampah banyak dan wadah nomor pertama telah penuh, dapat dipakai wadah nomor dua.

3. Tiga hari sekali sampah pada wadah nomor 1 atau 2 dibolak-balik (akan lebih baik jika tiap hari sambil disiram) agar proses pengomposan awal berjalan sempurna.

4. Rak nomor 2 dan 3 berfungsi sebagai media siap pakai (dari wadah nomor 1) dan telah siap ditanam cacing. Masukkan cacing ke dalam media siap pakai yang berisi limbah rumah tangga yang telah dikomposkan selama 1-2 minggu. Berat cacing yang dipakai atau dimasukka adalah 0,5kg per 2 kg media siap pakai. Wadah nomor 2 atau 3 tersebut setiap harinya harus diberi pakan dari samapi yang paling sedikit telah berumur 3 hari.

5. Beri pakan lebih kurang seberat cacing yang ditanam. Jika pakan tersebut masuh tersisa atau masih terlihat sebagai pakan, kurangi pemberian pakan, sehingga pakan benar-benar habis dimakan oleh cacing. Pemberiaan pakan hanya di bagian atas tempat penanaman cacing tanah.

6. Seminggu sekali wadah yang berisi cacing tanah (rak nomor 2 atau 3) diaduk-aduk dengan tangan langsung atau kayu lunak. Hal ini sangat berguna untuk aerasi sehingga cacing tanah dapat berkembang optimal.

7. Setelah pengadukan, cacing tanah tidak diberi pakan karena masih stres, sehingga belum mau makan. Baru pada hari berikutnya cacing tanah diberi pakan.

8. Wadah yang berisi cacing tanah harus dijaga kelembabannya (sekitar 60%). Jika terlalu kering, lakukan penyiraman bersamaan dengan pemberiaan pakan yang dibasahi. Demikian seterusnya.

9. Jika proses diatas berjalan dengan benar, dalam waktu sekitar sebulan, sampah akan berubah menjadi pupuk pupuk atau kascing. Setelah berubah menjadi kascing disarankan cacing tidak diberi pakan dahulu.

10. Wadah yang berisi kascing diletakkan dirak paling atas (nomor 1) dengan tidak diberi pakan dan tidak disiram. Maksudnya agar kokon atau telur cacing tanah menetas. Penetasan kokon tersebut berlangsung sekitar 2-3 minggu.

11. Pemindahan cacing tanah muda atau kokon yang telah menetas dilakuakn secara manual dengan tangan.

12. Kascing yang telah dipisahkan dari kokon diangin-anginkan sekitar semalam kemudian digunakan untuk memupuk tanaman.

Sumber : Tri Mulat, SP. Membuat & Memanfaatkan Kascing Pupuk Organik Berkualitas. Agromedia Pustaka, 2003.

Sunday, January 01, 2006

Membuat Sendiri Pestisida Alami

Sumber: Tabloid Nova No. 746/XV- 20 Oktober 2002).

Pemakaian pestisida menimbulkan banyak masalah. Selian merusak lingkungan, juga menjadi penyebab timbulnya kanker (karsinogenik). Pilihannya, gunakan pestisida lami. Bisa dibuat sendiri, kok.

Pestisida berasal dari kata pest yang berarti hama,s edangkan cide bermakna membunuh. Pestisida adalah nama lain untuk racun yang digunakan untuk membunuh penggangu tumbuhan, ternak dan sebagainya. Pemakaian pestisida berlebihan akan membawa dampak negatifterhadap lingkungan terutama kerusakan tanah. Belum lagi dampak buruknya terhadap kesehatan kita.

Nah, agar hasil panen Anda lebih aman untuk dikonsumsi, sebaiknya menggunakan pestisida alami yang justru akan mendapatkan beberapa keuntungan, diantaranya :
1. Daya kerja selektif, pestisida alami tidak mempengaruhi tanaman, tapi hanya berpengaruh pada hama pengganggu.
2. Tidak meracuni hasil pertanian.
3. Musuh alami tidak ikut musnah
4. Tidak menimbulkan kekebalan pada serangga
5. Murah.

Dari bahan-bahan sekitar, kita bisa membuat pestisida sendiri. Hasilnya pun tidak kalah dibandingkan pestisida kimia yang jelas-jelas merugikan, baik bagi kesehatan maupun bagi kantong kita. Bahan-bahan seperti bawang putih, merica, cabai, sambiloto bisa dipakai untuk mengusir hma. Termasuk juga tanaman yang biasa kita lihat dipinggir selokan, seperti tanaman babandotan.

Berikut beberapa jenis tumbuhan yang dpat digunakan sebagai pestisida alami.

Nimba (Azadiracta indica)
Ambil dua genggam bijinya, ditumbuk dan dicampur dengan 1 liter air. Lalu, aduk sampai rata. Setelah didiamkan 12 jam, kemudian saring. Bahan tersebut merupakan bahan aktif yang penggunaanya harus ditambah dengan air sebagai penegncer.
Selain biji, daunnya juga bisa digunakan untuk pestisida. Ambil daun sebanyak 1 kg, lalu rebus dengan 5 liter air. Diamkan selama 12 jam, kemudian saring. Air saringannya merupakan bahan pestisida alami yang digunakan sebagai pengendali berbagai hama tanaman.

Tembakau (Nicatium tabacum)
Batang atau daunnya dapat digunakan sebagai bahan pestisida alami. Caranya rendam batang atau daun tembakau selama 3-4 hari. Setelah direbus selama 15 menit, saring dan dinginkan. Pestisida ini bisa digunakan untuk mengusir kutu daun.

Tuba (Derriseleptica)
Akar dan kulit kayu ditumbuk sampai hancur benar. Kemudian campur dengan air dibuat ekstrak. Campur enam sendok makan esktrak dengan 3 liter air. Bisa digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis hama tanaman.

Temu-temuan
Ambil rimpangnya, kemudian tumbuk halus dicampur air urine (air seni) sapi. Kemudian diencerkan dengan perbandingan 1 : 2-6 liter. Campuran ini dapat digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis serangga penyerang tanaman.

Kucai (Allium schonaoresum)
Seduh kucai dengan air mendidih, kemudian disaring dan biarkan dingin. Ramuan ini dapat mengusir pengganggu tanaman mentimun.

Bawang putih (Allium sativum)
Bawang putih atau bawang bombai digiling bersama cabai, tambahkan sedikit air. Diamkan sekitar 1 jam. Lalu, berikan 1 sendok makan deterjen, aduk sampai rata, setelah itu ditutup. Simpan Selma 7-10 hari di tempat sejuk dan terhindar dari sinar matahari langsung. Bila ingin menggunakannya, campur ekstrak tersebut dengan air. Berguna untuk membasmi serangga.

Abu bakaran kayu
Taburkan abu disekeliling akar tanaman bawang Bombay, kol atau lobak. Abu berguna mengendalikan siput, ulat grayak serta belatung berakar (root maggot).

Cabai merah (Capsium annum)
Jemur cabai sampai kering, kemudian gilinglah hingga menjadi tepung. Untuk menggunakannya, anda cuku p mencapai tepung cabai dengan air secukupnya sebagai pengendali semut.

Kemangi (Ocium sanetu)
Daun kemangi dijemur hingga kering kemudian direbus sampai mendidih. Air rebusan tersebut dapat kita gunakan sebagai pestisida alami yaitu mengusir serangga.

Bisi Srikaya ( Anoma squamosa)
Tumbuk beberapa buah biji srikaya hingga menjadi tepung. Kemudian campur dengan air secukupnya . ramuan ini dapat mengusir apit, semut, dan hama lain yang menyerang tanaman.

Selain berasal dari rempah-rempah dan dedaunan, kita bisa memantaatkan buah-buahan busi sebagai pestisida Effectives Microorganismes (EM).

Ambil buah-buahan busuk kira-kira 4 buah (5 kg) untuk diperas atau diparut hingga halus dan disaring untuk diambil sarinya. Siapkan juga ¼ kg bawang putih yang sudah dihaluskan. Campur keduanya dan tambahkan air tape ketan/cuka/alcohol sebanyak 10 sendok makan. Ditambahkan air bekas cucian beras 1 liter dan 1 ons gula pasir.
Masukkan cairan kedalam botol diperam ditempat yang terhindar dari sinar matahari langsung selama 2 minggu. Untuk menggunakannya larutan itu dicampur air de ngan perbandingan 10 sendok makan EM : 10 liter air.

Selain bertindak sebagai pestisida, EM dapat berfungsi sebagai pupuk tanaman. Oleh karena teridir dari mikroorganisme nabati alami, larutan ini hanya bertahan selama 3 bulan. Cara pemakaiannya cukup mudah. Apabila terdapat tanda-tanda serangan hama, larutan EM yang sudah dicampur dengan air disemprotkan langsung pada tanaman.

Jodohkan, Hama Pun Hilang

Bersatu kita teguh. Pepatah lama itu ternyata relevan dalam budidaya tanaman. Banyak jenis tanaman jika dikombinasikan dengan tanaman tertentu memberikan dampak positif. Misalnya, sawi yang ditanam dekat kubis mampu mencegah serangan ulat. Tomat yang ditumpangsarikan dengan cabai, menangkal gangguan thrips. Perpaduan ini tidak hanya mencegah serangan serangga organisme pengganggu tanaman, tetapi juga menjaga kelembaban tanah dan membantu penyerbukan. Yang pasti kombinasi itu harus memenuhi criteria : tanaman dapat hidup berdampingan, saling menguntungkan dan hasilnya optimal.

Berikut beberapa contoh perpaduan tersebut

1. Alfalfa (Medicago sativa)
Anggota leguminosae ini mempunyai perakaran dalam. Akarnya mampu menghimpun zat besi, magnesium, fosfor, dan kalsium serta mengikat nitrogen. Tanaman yang tumbuh tegak ini umumnya digunakan untuk tanaman ternak. Alfalfa atau Luzerne dapat ditumpangsarikan dengan berbagai tanaman buah. Akarnya yang panjang menjaga kelembaban lahan. Ketika kemarau panjang tiba, dapat memasok kebutuhan air bagi tanaman yang ditumpangsarikan bersamanya.

2. Asparagus (Asparagus officinalis)
Asparagus dan tomat sejoli istimewa. Tomat mencegah serangan kumbang (Crioceris asparagi) pada asparagus. Sebalinya,asparagus melindungi tomat dari gangguan nemotoda Trichodorus. Akar asparagus mengeluarkan sejenis zat yang tidak disukai nematode penyerang aakar tomat tersebut. Selain dengan tomat, asparagus pun dapat dikombinasikan dengan peterseli.

3. Bawang putih (Allium sativum)
Sayuran umbi berbau menyengat ini tidak disukai tikus dan serangga. Jika ditumpangsarikan dengan wortel, serangga lalat wortel (Psila rosae) berkurang. Bawang putih juga cocok dikombinasikan dengan mawar dan tanaman buah.

4. Buncis (Phaseolus vulgaris)
Kemampuannya mengikat nitrogen bisa menyuburkan tanah. Berbagai sayuran dapat dikombinasikan dengan sayuran ini. Tumpangsari dengan bit mencegah burung pemangsa daun khususnya saat bit masih muda. Kominasi buncis dengan stroberri mempercepat masa panen. Tanaman lainnya yang ccok berteman dengan buncis adalah wortel, mentimun, kentang, labu tomat.

5. Bunga matahari (Helianthus annuus)
Tumpangsarikan bunga matahari dengan mentimun, melon, dan jagung manis. Hasilnya, proses penyerbukan tanaman-tanaman itu lebih cepat. Bunga matahari sangat menarik bagi lebah yang akan membantu proses penyerbukan. Bunga matahari juga berfungsi sebagai tanaman jebakan. Kombinasi bunga matahari dengan kendang menangkal serangan kutu daun dan aphid yang biasanya menyerang kentang. Serangga lebih tertarik pada bunga matahari yang berwarna kuning ketimbang daun kentang.

6. Jagung (Zea mays)
Jagung menyuburkan lahan pertanian. Tanamn yang cocok ditumpangsarikan adalah keluarga kacang-kacangan, labu, dan kentan. Tanah merambat juga dapat ditumpangsarikan dengan jagung. Bahkan mengurangi biaya produksi lantaran tanaman itu langsung dirambatkan pada jagung.

7. Kentang (Solanum tuberosum)
Tanaman yang cocok ditumpangsarikan dengan kentang antara lain buncis, jagung manis, kecang polong dankubis. Kentang mengambil nitrogen dari hasil penghimpunan akar kacang polong. Kentang yang ditumpangsarikan dengan tami (Boehmeria nivea) mencegah serangan Phytophtora infestans. Seadngkan, kombinasi kentang dan bunics menangkal kumbang yang banyak menyerang buncis.

8. Tomat (Lycopercon esculentum)
Tomat dan kubis merupakan ‘pasangan’ serasi. Aroma tak sedap dari daun tomat mencegah gangguan kupu-kupu putih dan ulat yang mengganggu kubis.